Minggu, 27 Mei 2012

_MANUNGGALING KAWULO GUSTI_

Seperti tetes-tetes air yang
mendinginkan kerak bebatuan
yang cadas dan keras.
Kesan batin
inilah bila kita membuka-buka
halaman buku tasawuf. Belajar
Tasawuf memang tidak
menjanjikan kesaktian dan
kekuatan badan.
Ia juga tidak
menjanjikan satu cara agar
mendapatkan kekayaan, kekuasaan
dan kedigdayaan di dunia.
Namun, dari tasawuf kita
mendapatkan bekal agar mampu
merangkai sesuatu yang berserak
di batin, dan selanjutnya bisa
menggerakkan kita agar bersiap
diri untuk sebuah perjumpaan
dengan Tuhan Yang Maha Melihat.
Betapa kering hidup ini bila kita
hanya berkutat pada aturan, pada
hukum, pada syariat. Namun tidak
pernah menyelami samudra
hakikat dari hukum syariat
tersebut.
Syariat itu dibuat tidak
hanya untuk ditaati, namun pasti
jelas ada tujuannya.
Syariat
mengharuskan seseorang muslim
untuk sholat, namun apa tujuan
sholat. Inilah saat kita memasuki
wilayah hakikat dan kemudian
tujuan sholat ditemukan yaitu
bersujudnya “diri” kepada DIRI
YANG MAHA SEJATI.
Secara
otomatis, bila kita bersujud
kepada DIRI SEJATI, maka kita
diharapkan untuk selalu menyatu
dan dekat dengan iradat-NYA,
kehendak-NYA. Dalam terminologi
agama dikatakan sebagai TAKWA.

Dalam sebuah perjalanan spiritual
menuju DIRI YANG MAHA SEJATI,
setidaknya kita membutuhkan
bekal yaitu pengetahuan sebab
perjalanan itu adalah perjalanan
yang orientasinya tidak ke luar,
namun ke dalam diri. Kita tidak
membutuhkan jutaan kilometer
jarak tempuh perjalanan dengan
kaki dan peluh yang bercucuran,
namun yang kita perlukan adalah
milyaran kehendak baik di dalam
diri untuk selalu ingin berbuat
kebajikan. Serta trilyunan perilaku
sekecil apapun yang luhur. Inilah
sesungguhnya perjalanan batin
yang orientasinya hanya agar DIA
mendekat menjadi ENGKAU dan
kemudian dekat-sedekat-dekatnya dg
DIRI YG MAHA SEJATI.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar