Minggu, 27 Mei 2012

___RENUNGAN INDAH___


Ketika semua orang memuji milikku ..

Bahwa sesungguhnya ini hanyalah
titipan

Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya ..

Bahwa rumahku hanyalah titipan-
Nya ..

Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya ..

Bahwa semua milik ku hanyalah titipan-Nya ..


Tetapi, mengapa aku tak pernah
bertanya:

Mengapa Dia menitipkan padaku ?
Untuk apa Dia menitipkan ini
padaku ?

Dan kalau bukan milikku,
apa yang
harus kulakukan untuk milik-Nya itu ?

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu
yang bukan milikku ?

Mengapa hatiku justru terasa berat,
ketika titipan itu diminta kembali
oleh-Nya ?

Ketika diminta kembali, kusebut itu
sebagai musibah ..

Kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu
sebagai petaka ..

Kusebut itu sebagai panggilan apa saja
untuk melukiskan kalau itu adalah
derita

Ketika aku berdoa, kuminta titipan
yang cocok dengan hawa nafsuku ...

Aku ingin lebih banyak harta,

ingin lebih banyak mobil,

lebih banyak popularitas, dan
kutolak sakit,

kutolak kemiskinan,

seolah semua “derita” adalah
hukuman bagiku ...

Seolah keadilan dan kasih-Nya harus
berjalan seperti matematika:

Aku rajin beribadah, maka
selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan nikmat dunia kerap
menghampiriku ....

Kuperlakukan Dia seolah mitra
dagang, dan bukan kekasih ..

Kuminta Dia membalas “perlakuan
baikku”,

Dan menolak keputusan-Nya yang tak
sesuai keinginanku ...


Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan, hidup
dan matiku hanya untuk beribadah...


(Puisi terakhir Rendra yang
dituliskannya diatas ranjang RS)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar